36 Negara Di Dunia Mengkritik Hak Asasi Manusia Negara Arab Saudi

36 Negara Di Dunia Mengkritik Hak Asasi Manusia Negara Arab Saudi

36 Negara Di Dunia Mengkritik Hak Asasi Manusia Negara Arab Saudi – Dunia yang terdiri dari puluhan negara, pada hari kamis satu per satu mulai mengeluarkan teguran yang langka dan pedas terhadap perlakuan Arab Saudi. Teguran ini terkait negara Arab Saudi terhadap aktivis yang ditahan, termasuk aktivis hak-hak perempuan yang dipenjara.

36 Negara Di Dunia Mengkritik Hak Asasi Manusia Negara Arab Saudi

Kami mengungkapkan keprihatinan kami yang dalam, mengenai peningkatan yang signifikan tentang laporan penangkapan yang berkelanjutan. Selain itu juga, penahanan yang dilakukan sewenang-wenang oleh pemerintah Arab Saudi, terhadap pembela hak asasi manusia di Kerajaan Arab Saudi, menurut pernyataan yang didukung oleh total 36 negara termasuk 28 anggota Uni Eropa.

Kami sangat prihatin tentang penggunaan undang-undang kontraterorisme dan ketentuan keamanan nasional arab Saudi lainnya terhadap individu yang secara damai menggunakan hak dan kebebasan mereka, tambahnya.

Pernyataan ini dibacakan langsung oleh banyak negara lainnya, pada sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Mereka juga meminta monarki absolut untuk bekerja sama dengan penyelidikan yang menyebabkan terjadinya sebuah insiden pembunuhan pada Oktober terhadap Jamal Khashoggi. Jamal Khashoggi adalah seorang jurnalis sekaligus seorang kritikus dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Dirinya adalah seorang pangeran muda yang kuat, yang pada awalnya dipuji sebagai salah satu seorang reformis yang bermaksud memodernisasi dan menguatkan negara tercintanya. Dirinya menjadi salah satu sekutu penting Presiden Donald Trump dan Jared Kushner, sekaligus menantu dan penasihat presiden .

Teguran yang dikeluarkan pertama kepada kerajaan Arab Saudi dalam sejarah selama 13 tahun badan PBB, itu memicu pembahasan masalah kembali tentang catatan hak asasi manusia Arab Saudi kembali menjadi sorotan. Hal ini muncul di tengah kekhawatiran, dimana terjadi banyak kasus berkembang atas perlakuan negara Arab Saudi terhadap aktivis yang ditahan.

Setiap negara mengeluarkan pendapat, bahwa ini adalah kesempatan penting bagi setiap negara-negara untuk mengambil sikap public, yang kuat terhadap catatan hak asasi manusia Arab Saudi yang sangat mengerikan, kata Dana Ahmed, peneliti Arab Saudi Amnesty International. Kami berharap pernyataan Dewan Hak Asasi Manusia didalam siding Perserikatan Bangsa Bangsa akan menjadi salah satu titik terang, untuk meningkatkan tekanan diplomatik pada otoritas negara Arab Saudi.

Sementara itu Amerika Serikat yang tengah dalam pengumuman untuk pengunduran diri dari 47 anggota dewan pada 19 Juni. Secara spesifik negara tersebut mengatakan mereka menargetkan Israel secara tidak adil, pernyataan itu masih memiliki bobot.

Di antara mereka yang ditahan oleh pemerintah adalah Loujain al-Hathloul, Eman al-Nafjan dan penduduk AS Aziza al-Yousef, yang sedang berkampanye untuk mendapatkan hak mereka kembali dalam hak mengemudi di kerajaan sebelum larangan dicabut pada bulan Juni. Para aktivis wanita itu ditahan tanpa dakwaan mulai dari bulan Mei hingga Jumat ketika jaksa penuntut mulai melayangkan tuduhan atas apa yang mereka mencoba coba suarakan. Tuduhan yang dilayangkan oleh jaksa penuntut adalah merusak keamanan, stabilitas, dan persatuan nasional Kerajaan Arab Saudi.

Investigasi oleh Human Rights Watch dan Amnesty International menyatakan bahwa pihak berwenang telah melakukan penyiksaan dan melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa tahanan.

Tahanan lainnya termasuk Israa al-Ghomgham, yang merupakan seorang aktivis wanita dari komunitas minoritas Syiah, dan ulama reformasi populer Salman al-Awda, akan menghadapi hukuman mati. Menurut keluarganya, al-Awda dituduh oleh jaksa penuntut dalam hal menghasut dan menyebarkan perselisihan di kerajaan.

Putra Al-Awda Abdullah Alaoudh mengatakan dia berbesar hati dengan tekanan pada penguasa negara. Terutama rasa jijik setelah pembunuhan Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul.

Komunitas internasional akhirnya mulai sadar, kata Alaoudh. Seseorang rekan senior di Pusat Pemahaman Muslim Kristen di Universitas Georgetown, mengatakan sebelumnya kami benar-benar berjuang untuk menceritakan kisah-kisah Arab Saudi, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi dengan perlakuan negara saat ini, komunitas ini sekarang lebih mudah untuk orang lain memahami kami. Hal ini memberi komunitas kami sebuah harapan baru.

Tetapi dirinya yang mengamati bahwa aktivitas dalam kasus-kasus yang melibatkan ayahnya dan aktivis hak-hak perempuan yang telah dihentikan. Pemberhentian sementara ini terjadi setelah pembunuhan Khashoggi terjadi. Dimana yang menurut Central Intelligent Amerika diperintahkan oleh putra mahkota, hanya untuk dimulai kembali pada minggu lalu.

Hal ini menjadi sebuah perhatian baru pada catatan hak asasi manusia Arab Saudi. Perlakuan ini muncul setelah serangkaian laporan tentang sistem perwalian negara, yang memberikan laki-laki sebuah hak denan kendali yang lebih besar atas kerabat perempuan.

Pada hari Selasa, The New York Times melaporkan kasus Bethany Vierra. Bethany adalah seorang warga negara asal Amerika yang menikah dengan seorang pria asal Arab Saudi. Dimana mereka terjebak di negara yang tidak dapat menggunakan rekening banknya. Bethany mulai bepergian dengan putrinya yang masih kecil, untuk mencari bantuan hukum yang kuat setelah perceraiannya dengan pria arab Saudi dan ketidak berlaku rekening banknya.

Meskipun tidak menyebut nama Vierra, juru bicara Departemen Luar Negeri pada Selasa mengatakan kepada para pejabat telah. Bahwa mereka telah melihat sebuah laporan pada media tentang ketidak adilan yang diterima seorang warga Amerika Serikat yang tidak dapat meninggalkan Arab Saudi bersama putrinya saat ini. Kami saat ini tengah dalam keterlibatan dengan pemerintah Arab Saudi dan semua negara tentang masalah ini, kata wakil juru bicara Robert Palladino.

Selain menjatuhkan sanksi pada 17 orang atas kasus Khashoggi, pemerintahan Donald Trump juga  mengisyaratkan tidak ada rencana untuk meninjau aliansi Amerika Serikat dengan Riyadh. Pemerintahan trump menangguhkan seluruh penjualan senjata atau mengejar tindakan hukuman yang lebih lanjut. Sebaliknya, dirinya mengatakan betapa pentingnya hubungan tersebut, dengan alasan pembelian perangkat keras militer Amerika Serikat, kekayaan minyaknya dan penentangannya terhadap aktivis Iran. Akan tetapi pandangan ini tidak dimiliki oleh semua orang di Washington.

36 Negara Di Dunia Mengkritik Hak Asasi Manusia Negara Arab Saudi

Seperti pada tanggal 1 Maret, Senator Tim Kaine dan Rep Gerald Connolly, dimana keduanya dari Demokrat Virginia, meminta Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk mengangkat masalah “pemenjaraan yang tidak adil” terhadap al-Yousef. Al-yousef adalah seorang penduduk asli Virginia, dimana dirinya memiliki hak yang sama dengan aktivis lainnya.

Pada hari Rabu, senator dari kedua belah pihak menantang calon duta besar baru Donald Trump untuk Arab Saudi untuk meminta pertanggung jawaban kerajaan.

Kristian Coates Ulrichsen, dengan seorang rekan untuk daerah Timur Tengah di Institut Kebijakan Publik Baker University, mengatakan bahwa dirinya tidak mengantisipasi tekanan internasional yang berbuat banyak untuk mengubah perilaku Saudi.

Penunjukan ini sangat penting. Karena pembaruan yang dibuat oleh putra mahkota saat ayahnya Raja Salman sedang dalam perjalanan. Hal ini menandakan bahwa Mohammed bin Salman tetap memegang kendali kerajaan Arab Saudi dengan sangat kuat dan mungkin dimaksudkan sebagai pesan untuk menentang kritik internasionalnya, termasuk di Kongres.